Serangan Krack Intai Korban via Koneksi WiFi

Ancaman yang ditebar oleh para hacker seakan tak pernah berhenti untuk mencari korban. Senin kemarin seorang analis keamanan di Computer Emergency Rediness Teamm, Amerika Serikat (AS), melaporkan adanya modus peretasan data pengguna melalui WiFi yang dilakukan para hacker.

Kali ini para hacker memanfaatkan celah pada sistem keamanan WiFi untuk meluncurkan serangan yang diberi nama key reinstallation attacks atau sering disingkat Krack. Setelah berhasil masuk, hacker akan menyebarkan malware atau mencuri data-data penting yang terdapat pada perangkat para korbannya.

Yang lebih parahnya lagi, untuk serangan ini mereka tidak pandang bulu soal sinyal WiFi yang digunakan. Mulai dari smartphone, tablet, laptop, Playstation dan perangkat pintar lainnya yang menggunakan koneksi Wi-Fi berpotensi untuk menjadi korbannya.

Data yang dicuri juga bisa banyak sekali jika mereka berhasil masuk ke sistem keamanan perangkatmu. Mulai dari nomor kartu kredit, password, aplikasi instant messaging, foto, email, dan video bisa diambil alih oleh mereka.

Menurut keterangan Marty Vanhoef, seorang analis keamanan, serangan Krack berpotensi menyerang korban ketika hendak menghubungkan perangkatnya ke jaringan Wifi meskipun terproteksi. Hal ini ia katakan melalui Forbes yang dilansir Liputan6 hari ini.

Ia juga mengatakan bahwa penggantian password bukanlah solusi untuk menangkal serangan ini. Solusi itu tidak berpengaruh sama sekali.

Tapi meskipun beresiko, ia menyebutkan bahwa ancaman serangan Krack tidak terlalu besar dibanding ketika serangan Wannacry berlangsung di seluruh dunia. Karena untuk melakukan serangan ini hacker harus ada di jaringan WiFi.

Salah satu solusi yang harus dilakukan untuk mengantisipasi Krack adalah dengan melakukan pembaruan sistem keamanan pada masing-masing perangkatnya. Microsoft dan Apple sebagai perusahaan operasi sistem terbesar di dunia pun sudah merilis patch terbaru setelah mengetahui ada celah pada keamanan tersebut.

Jadi, untuk terhindar dari resiko serangan ini, para pengguna disarankan untuk segera memperbaharui (update) perangkatnya segera mungkin. Untuk memastikan apakah pembaruan sudah hadir, selalu cek secara rutin melalui menu settings perangkat kalian. Selain itu, update selalu anti virus yang kalian gunakan untuk memperkuat sistem keamanan perangkat.

Keuntungan Menggunakan Android Stock Bagi Kamu

Hadirnya smartphone Android sejak beberapa tahun lalu memang menawarkan sejumlah kemudahan bagi manufaktur maupun para pengguna untuk melakukan berbagai modifikasi. Dengan begini, setiap brand/vendor bisa saja tampil berbeda meskipun sama-sama menggunakan sistem operasi Android yang sama. Bahkan beberapa vendor sudah diakui kualitasnya mengenai modifikasi tampilan. Misalnya TouchWiz milik Samsung, MIUI milik Xiaomi, dan ZenUI millik Asus.

Tapi, Google bukannya tidak menghadirkan tampilan Android yang murni untuk penggunanya. Salah satu produk yang dulu dikenal memberikan Android stock alias murni adalah Nexus. Tapi tahun lalu Google resmi merilis Google Pixel yang juga menawarkan Android Stock. Ternyata, Android Stock sendiri memiliki keuntungan bagi penggunanya. Lalu, apa saja keuntungan menggunakan Android Stock alias murni tanpa permak/tambahan dari manufaktur? Berikut keuntungan menggunakan Android Stock bagi para penggunanya:

1. Sistem Keamanan
Seperti yang kita tahu, salah satu permasalahan dari perangkat Android yang sering dikritik adalah sistem keamanan. Sistem android kerap menjadi sasaran menggiurkan bagi malware. Ternyata Google selama ini bukan tidak bertanggung jawab, mereka rutin memberikan update sistem keamanan bagi pengguna. Akan tetapi memang tidak selalu rutin didistribusikan oleh manufaktur karena mereka harus menyesuaikan dengan sistem yang mereka pasang.

Berbeda jika kamu menggunakan Android stock atau murni. Kamu dapat langsung menikmati pembaruan sistem langsung dari Google.

2. Dapat Langsung Menikmati Versi Android Baru
Sebagai pengguna, kadang kita pasti sebal jika baru bisa menikmati Android versi baru setelah menunggu berbulan-bulan lamanya. Hal ini dikarenakan sistem operasi baru tersebut juga harus disesuaikan dengan sistem yang manfaktur miliki. Ditambah, manufaktur lebih memilih mengeluarkan sistem operasi versi baru bersama dengan perangkat baru agar pengguna dipaksa membeli perangkat baru dan memberikan keuntungan bagi manufaktur.

Berbeda dengan Android stock, pembaruan selalu langsung datang dari Google. Meskipun tidak selalu versi update, tapi setidaknya sistem operasi yang dapat langsung dirasakan adalah satu tingkat di atasnya.

3. Bloatware yang Lebih Sedikit

Ini pasti menjadi masalah utama para pengguna smartphone yang memiliki memory internal sedikit. Biasanya masalah muncul di pemilik memory internal 16GB dan RAM 1 GB. Tak jarang manufaktur memberikan banyak aplikasi mereka untuk membebankan smartphone. Padahal aplikasi bloatware tersebut belum tentu kita gunakan. Dan yang lebih menyebalkan, aplikasi tersebut tidak bisa kita hapus.

Android Stock berani menjamin bahwa bloatware yang dimiliki pengguna akan jauh lebih sedikit. Jadi memory internal yang dimiliki pun bisa lebih lega.